AMBON, MARINYO.COM- DPC PKB se-Maluku akan melakukan aksi bersama penanaman magrove dan pembersihan sampah plasik laut yang akan dilakukan serentak di 11 kabupaten/kota se-Maluku pada Kamis, 25 Maret mendatang.
Upaya ini dilakukan sebagai komitmen PKB sebagai green party yang bukan saja peduli pada kemaslahatan manusia namun juga terlibat aktif melindungi lingkungan hidup.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua DPW PKB Maluku Basri Damis di Ambon, Senin (22/3/2021).
“Kita secara serentak di Maluku melakukan penanaman magrove dan bersih sampah plastik laut. Aksi Peduli Lingkungan berupa penanaman Mangrove dan Pembersihan Sampah Plastik Laut ini juga akan mengajak Pak Bupati/Walikota Se-Maluku untuk bersama-sama dalam aksi peduli Lingkungan di maksud .
Kita akan mengajak Bupati/Walikota di kabupaten/kota masing-masing untuk bersama-sama dengan PKB melaksanakan Penanaman Magrove dan Pembersihan sampah plastik laut, karena para Bupati/Walikota merupakan stakholder utama terkait kebijakan Yang Pro Lingkungan di daerah masing-masing,” ujar dia.
Dirinya menambahkan bahwa upaya tersebut merupakan komitmen PKB sebagai Green Party. Artinya PKB bukan hanya peduli pada manusia, tapi juga turut serta melindungi lingkungan hidup. Karena manusia dan lingkungan adalah kesatuan yang tak dapat dipisahkan.
“Ini semua kita lakukan untuk menjaga keseimbangan alam dan manusia. Bila alam lestari maka manusia juga bisa sehat sejahtera”, sambungnya.
Damis menjelaskan, magrove punya manfaat fital dalam ekosistem laut. Yaitu mencegah abrasi pantai, gelombang pasang dan angin putting beliung. Selain itu magrove mampu mensuplai oksigen dan menjadi tempat ideal plangton dan reproduksi ikan.
“Contohnya di kepulauan Aru, disana hutan mangrove luar biasa banyak. Sehingga ikan juga banyak. Jadi secara tidak langsung mangrove yang kita tanam hari ini akan punya dampak ekologis dan ekonomi di sepuluh hingga 20 tahun mendatang. Ini investasi lingkungan yang sangat bagus”, tuturnya.
Selain penanaman magrove, juga akan diadakan pembersihan sampah plastik yang tersebar di laut.
“Ambil contoh, diprediksi ada 10 ton sampah plastik yang dibuang oleh masyarakat di seputaran teluk Ambon. Sampah ini dia akan menjadi racun karena tidak bisa meurai selama ratusan tahun. Akhirnya ekosistem terganggu, timbul penyakit, dan dampak negative sistemik lainnya,” ujar dia, sembari mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah harus bisa sinergi melakukan upaya Bersama untuk melastarikan lingkungan.
“Yang kita lakukan ini adalah sebuah upaya kecil. Semoga bisa menginspirasi pihak-pihak lain terutama pemerintah daerah kabupaten/kota agar mampu membuat kebijakan yang pro terhadap lingkungan,” tutur dia.
Menurut Basri, kegiatan penanaman mangrove dan pembersihan sampah plastik di laut ini adalah rangkaian dari akan di laksanakannya kegiatan Pelaksanaan Muscab DPCPKB di 11 kabupaten/kota. (DAS)











Komentar