oleh

FPN Serukan Muktamar NU Jadi Momentum Rekonsiliasi, Bukan Arena Konflik

-Politik-12 views

JAKARTA, MARINYO.COM — Forum Penyelamatan NU (FPN) meminta seluruh peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mengedepankan kepentingan organisasi dan persatuan warga nahdliyin. FPN mengingatkan agar konflik internal yang selama ini terjadi tidak kembali mewarnai forum permusyawaratan tertinggi NU.

Ketua FPN Abdul Hamid Rahayaan mengatakan dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak terlepas dari persaingan sejumlah kelompok yang menginginkan posisi strategis dalam kepengurusan.

Menurut Abdul Hamid, terdapat dua kelompok yang selama ini dikaitkan dengan figur KH Miftahul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf. Persaingan antarkelompok tersebut dinilai berpotensi kembali muncul dalam proses Muktamar apabila tidak disikapi secara bijaksana.

“Kalau ingin NU kembali solid seperti semula dan dapat fokus menjalankan program pendidikan, kesehatan, sosial keumatan dan program lainnya, maka jangan sampai Muktamar kembali menjadi arena konflik antarkelompok,” kata Abdul Hamid dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).

Karena itu, FPN mengimbau seluruh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Indonesia agar tidak terjebak dalam pilihan yang justru berpotensi memperpanjang konflik internal organisasi.

Abdul Hamid menilai peserta Muktamar perlu memilih calon Ketua Umum PBNU yang memiliki rekam jejak organisasi yang baik, mampu menjaga independensi, serta tidak terseret dalam konflik antarkelompok.

“PWNU dan PCNU kami imbau memilih calon Ketua Umum PBNU yang bebas konflik. Untuk anggota AHWA, pilih ulama yang alim, jauh dari ambisi kekuasaan, sehingga dapat melahirkan Rais Aam PBNU yang alim dan menjadi panutan bagi warga NU, bangsa dan negara,” ujarnya.

Soroti Dugaan Transaksi Dukungan

FPN juga mengingatkan agar Muktamar tidak berubah menjadi arena transaksi dukungan politik organisasi. Abdul Hamid meminta seluruh PWNU dan PCNU mencermati setiap bentuk manuver yang bertujuan memperoleh dukungan dalam pemilihan Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU.

Ia menilai pemberian bantuan atau fasilitas kepada pengurus wilayah maupun cabang tidak semestinya menjadi dasar dalam menentukan pilihan di Muktamar.

“Kalau ada manuver dengan cara transaksi untuk mendapatkan dukungan, jangan sampai itu menentukan pilihan. Yang harus dikedepankan adalah kepentingan NU dan kemaslahatan umat,” katanya.

Menurut Abdul Hamid, memilih salah satu kelompok yang selama ini disebut berseberangan bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan internal PBNU.
“Kalau tujuannya menyelesaikan konflik, maka jangan memilih berdasarkan kepentingan kelompok. Pilihlah pemimpin yang mampu menyatukan kembali seluruh elemen NU,” ujarnya.

FPN Dorong Evaluasi Kepengurusan PBNU
Selain menyerukan rekonsiliasi, FPN mendorong agar laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan PBNU periode 2021-2026 ditolak dalam Muktamar.

Abdul Hamid mengatakan LPJ harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program dan kinerja kepengurusan PBNU selama lima tahun terakhir.

Menurut dia, forum Muktamar memiliki kewenangan untuk menilai sejauh mana kepengurusan sebelumnya menjalankan amanah organisasi dan memberikan manfaat bagi warga NU.

“LPJ harus dipertanggungjawabkan secara objektif. Kalau memang ada kekurangan selama lima tahun kepemimpinan, harus disampaikan dan dievaluasi dalam forum Muktamar,” katanya.

Abdul Hamid menegaskan FPN tidak ingin Muktamar hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, forum tersebut diharapkan menjadi titik balik untuk mengakhiri konflik internal sekaligus memperkuat kembali konsolidasi organisasi.

“Kami ingin Muktamar menjadi momentum rekonsiliasi. NU harus kembali fokus pada pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi umat dan persoalan kebangsaan. Jangan sampai energi NU habis karena konflik internal,” ujarnya.

FPN berharap seluruh peserta Muktamar mengutamakan kepentingan organisasi, umat, bangsa, dan negara di atas kepentingan kelompok maupun figur tertentu.
Abdul Hamid menambahkan, kepemimpinan NU ke depan harus mampu menyatukan seluruh elemen organisasi agar NU dapat kembali fokus menjalankan peran strategisnya dalam bidang keumatan dan kebangsaan. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed