AMBON, MARINYO.COM – Setelah tiga dekade lebih berlalu, tradisi Panas Pela Rohani antara Paroki Santo Fransiskus Xaverius Katedral Ambon dan Negeri Soya, Kecamatan Sirimau, kembali dihidupkan pada Sabtu (6/12/2025) melalui seminar kebudayaan dan Ibadah Oikumene.
Kegiatan lintas gereja ini bertujuan mempererat tali persaudaraan antara umat Katolik dan Protestan. Acara dibuka dengan seminar yang melibatkan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Katedral dan Angkatan Muda GPM (AM GPM) Jemaat Soya. Seminar berlangsung di Gedung Gereja Katedral Ambon dengan menghadirkan tiga narasumber yakni RD Igo Refo, Pastor Vikaris Parokial Katedral Ambon, Pdt Elifas Maspaitella, Mantan Ketua Sinode GPM dan Herve Rehatta, Raja Negeri Soya. Acara dipandu sastrawan dan jurnalis Rudi Fofid.
Dalam pemaparannya, RD Igo Refo mengulas perjalanan misionaris Santo Fransiskus Xaverius di Maluku, khususnya di Ambon dan Negeri Soya. Ia menjelaskan bagaimana sang misionaris mewartakan Injil, membaptis umat, dan memperkenalkan praktik sakramental di wilayah tersebut.
Sementara itu, Pdt Elifas Maspaitella memaparkan sejarah hubungan Katolik dan Protestan di Maluku. Ia menegaskan bahwa akar iman Protestan tidak dapat dipisahkan dari tradisi Katolik.
“Kota Ambon didirikan di atas nazar doa Katolik Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus,” ungkapnya. Ia juga menyebut bahwa sebelum hadirnya Benteng Victoria, tujuh jemaat tua di Ambon—Hatiwe, Nusaniwe (Puta Kapa), Soya, Ema, Hukurila, Naku, dan Rutung—merupakan komunitas Katolik.
Masuknya Portugis pada awal abad ke-16 membawa pengaruh Katolik, sebelum Belanda yang berhaluan Protestan menguasai Ambon pada 1605 dan menerapkan kebijakan protestanisasi, termasuk larangan terhadap perkembangan agama Katolik.
“Protestan lahir dari iman Katolik,” tegas Pdt Elly.
Sementara Raja Negeri Soya, Herve Rehatta, membagikan sejarah masyarakat Soya dari masa ke masa, termasuk tradisi adat Cuci Negeri dan keberadaan monumen Santo Fransiskus Xaverius yang menjadi simbol perjalanan iman di wilayah tersebut.
Acara Panas Pela Rohani terakhir kali digelar pada 14 Februari 1992, ditandai minum sopi dengan tetesan darah dan pengangkatan janji bersama sebagai pela. Peristiwa itu diprakarsai oleh Raja Soya kala itu, Rene Rehatta, bersama sejumlah tokoh gereja, pemuda, dan masyarakat dari Katedral Ambon maupun Jemaat Soya.
Momen tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Napak Tilas sejarah evangelisasi di Maluku, yang menegaskan pentingnya menjaga hubungan pela dan warisan iman lintas generasi.
Tahun ini, Panas Pela Rohani kembali dihidupkan melalui: seminar kebudayaan dan sejarah, Ibadah Oikumene, Penyerahan cenderamata, Expo hasil pertanian, kuliner, dan kerajinan masyarakat Negeri Soya dan Makan patita dan ramah tamah sebagai penutup
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk merawat kembali ikatan pela sekaligus memperkuat kebersamaan antarumat Katolik dan Protestan di Ambon.
(***)










Komentar