oleh

Kadinkes Kota Ambon Akui Ada Peningkatan Kasus DBD

-Kota Ambon-1.062 views

AMBON, MARINYO.COM- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon mengakui bahwa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan di tengah pandemi Covid-19.

Peningkatan sesuai data tercatat 118 kasus ditahun 2020 dibandingkan tahun 2019, sebanyak 15 kasus.

Kepada wartawan di Ambon, Jumat (8/10/2021) Kadinkes Kota Ambon, drg Wendy Pelupessy mengakui, kalau ada peningkatan kasus DBD di Kota Ambon dan itu terjadi akibat faktor curah hujan yang cukup panjang.

“Ia betul, memang ada peningkatan DBD, tapi tahun ini kan kita dilanda musim hujan yang cukup panjang dibandingkan tahun kemarin,” jelas Pelupessy.

Namun menurutnya, berbicara DBD itu juga ada hubungan dengan kondisi cuaca dan jika misalnya kondisi itu panas tidak bisa menimbulkan terjadinya tempat-tempat perundukan jentik nyamuk jenis DBD akibatnya adanya genangan air dan sebaliknya juga itu musim hujan maka akan menimbulkan tempat-tempat perundukan.

“Kalau hujan biasanya begitu dan empat perundukan itu terjadi akibat adanya sampah, berupa bekas tempat minum seperti Aqua dan bahan bekas lainnya yang bisa menimbulkan genangan air hujan sebagai tempat penampungan, itu beda dengan musim panas itu tempatnya pasti kering,”jelasnya.

Nyamuk DBD kata Pelupessy , itu beda dengan jenis nyamuk malaria yang bisanya jarang bersarang ditempat-tempat perundukan tapi ada pada tempat-tempat tertentu.

Ia mencontohkan, tempat-tempat yang bisanya suka nyamuk DBD berkembang, khusus yang ada di rumah-rumah biasanya itu ada pada vas bunga yang diisi air, kalau tidak diganti airnya juga bisa menimbulkan kembangnya nyamuk DBD.

Sama halnya dengan tempat-tempat penampungan air yang ada di rumah masing-masing dan itu setiap saat harus dikuras agar mengatasi berkembangnya pertumbuhan jentik nyamuk DBD.

“Jadi semuanya ini intinya kembali ke kita masing-masing, bagaimana cara untuk mengatasi DBD ini, itu dengan cara menjaga kebersihan lingkungan, itu intinya disitu,”ujarnya.

Itu dimaksud agat tidak memberikan ruang atau kesempatan untuk nyamuk DBD berovipar atau bertelur.

“Untuk menjaga kebersihan itu harus menjadi tanggung jawab bersama, masyarakat dan pemerintah,”terangnya.

Pemerintah sendiri lanjut Pelupessy, lewat peran puskesmas-puskesmas yang ada sudah melakukan pencerahan atau sosialisasi kepada masyarakat, saat terjadinya musim penghujan dan itu juga disampaikan lewat siaran radio berupa waspada terhadap penyakit yang ada pada musim penghujan.

Salah satu yang sering terjadi, ketika itu terjadi musim Pancaroba, seperti yang terjadi saat ini.

Menanggapi kasus yang terjadi di Negeri Passo akui, Pelupesssy, perundukannya itu lebih banyak ke nyamuk jenis malaria bukan nyamuk DBD dan tempat perundukannya sudah pernah ditutup.

“Kalau DBD biasanya Passo bukan langgannya tapi ada pada lokasi tertentu yang biasanya menjadi daerah potensi, karena memang kondisinya daerahnya seperti itu,”bebernya.

Seperti kasus yang pernah terjadi pada lokasi Belakang Soya dan setelah dilakukan kebersihan kondisinya DBDnya sudah mulai berkurang.

“Memang selama pandemi Covid-19, memang pegawai Pemkot Ambon, sudah tidak turun kasih bersih lingkungan dan itu kembali ke lingkungan masing-masing. Jadi inti dari DBD pencegahannya itu dengan gerakan, Menguras Menutup Mengubur (3M) atau tempat yang bisa menimbulkan berkembangnya ovipar nyamuk DBD,” tuturnya.

Namun dalam mengatasi kasus DBD, Dinkes Ambon lewat Puskesmas akan membagikan bubuk abate, tapi ansinya bukan sebagai penyelesaian masalah, namun kuncinya bagaimana masyarakat bisa mengatasi berkembangnya jentik nanyamui DBD bisa dihilangkan hanya dengan cara 3M. (DAS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed