Umumnya kita lebih berselera menyantap makanan yang panas daripada makanan dengan suhu dingin. Ternyata hal ini dipengaruhi oleh bau dan rasa makanan. Pada makanan panas partikel udara yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan makanan dingin. Selain itu, sensasi rasa pada tubuh juga dipengaruhi oleh bau, sehingga akan membuat kita lebih menyukai makanan panas.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature tahun 1999, menyatakan bahwa suhu menciptakan ilusi kenikmatan tersendiri. Memanaskan atau mendinginkan bagian lidah tertentu dapat menciptakan ilusi rasa tertentu.Misalnya, saraf chorda tympani yang berada pada bagian ujung lidah menciptakan rasa yang lebih nikmat pada suhu panas atau hangat, namun lidah akan merasakan sensasi rasa yang berbeda pada suhu dingin, yakni asam atau asin. Kemudian, di bagian belakang lidah, yaitu tempat di mana saraf glossopharyngeal berada, serangkaian efek yang berbeda terjadi.
Apa yang Anda makan atau minum juga mempengaruhi rasa makanan. Lidah, sebagai saluran kecil pada indera pengecap rasa yang mengirimkan sinyal listrik ke otak yang berkaitan dengan rasa, cenderung berfungsi pada tingkat yang lebih tinggi saat suhu lebih tinggi. Makanan manis seperti Cokelat yang didinginkan akan menjadi kurang manis; penelitian menunjukkan rasa ‘cokelat’ nya juga kurang terasa dan kurang lembut. Minuman pahit seperti teh, kopi, dan coklat panas, lebih nikmat diminum saat panas, rasa pahitnya tersamarkan oleh suhu, sedangkan secangkir teh atau kopi yang dibiarkan dingin jauh lebih pahit jika dibandingkan. Ham terasa lebih asin saat dingin dan lebih gurih (umami) saat hangat – sandwich ham yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin terasa asin dan tidak banyak lagi, tetapi dibiarkan sampai suhu ruang dan rasanya dilepaskan. Tomat (yang manis dan umami) dan stroberi (manis) rasanya menjadi sangat lebih baik jika dikonsumsi dari lemari es, sedangkan pada suhu ruang rasanya sangat manis dan intens.
Makanan panas ternyata ada hubungan dengan asupan kalori sebagai sumber energi yang mendukung aktivitas sehari-hari. Makanan dengan suhu panas menghasilkan jumlah kalori dan nutrisi yang lebih baik dari makanan tersebut. Otak manusia menganggap makanan dengan suhu panas ada kaitannya dengan kalori yang dihasilkan. Sehingga, otak akan mengirimkan sinyal pada tubuh untuk mengonsumsi makanan panas. Selain itu, makanan panas juga akan menghasilkan energi yang diperlukan. Ini tidak akan terjadi pada makanan dingin, sebab terjadinya perubahan pencernaan pada makanan tersebut.
Ada lebih dari 10.000 pengecap, rata-rata, di lidah manusia, dan setiap pengecap terdiri dari antara 50 dan 100 sel, yang semuanya dapat mendeteksi setiap jenis rasa – asin, asam, manis, pahit, dan umami. Beberapa makanan lebih disukai dingin, seperti soda, sementara yang lain lebih disukai ketika panas, seperti teh dan coklat.Dengan demikian, makanan panas tidak selalu berarti lebih baik, suhu panas memang meningkatkan profil rasa tertentu pada sejumlah jenis makanan atau minuman. Namun, suhu dingin juga menciptakan profil rasa yang lebih baik pada makanan yang berbeda pula.(***)
Apakah Makanan Panas Lebih nikmat dari Makanan dingin? Oleh : Vonda M.N. Lalopua Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Universitas Pattimura










Komentar