oleh

Syahrul Wadjo Mangaku Tidak Diculik

-Berita-1.125 views

Ambon, Marinyo.com- Penyidik Polresta Ambon akhirnya bisa membongkar skenario penculikan salah satu aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Muhammad Syahrul Wadjo. Hal ini terungkap setelah polisi melakukan penyelidikan kurang lebih 24 jam.

Kapolresta Ambon, Kombes Leo Simatupang dalam keterangan pers, Jumat (4/9/2020) di Mapolres Ambon, yang juga dihadiri Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Roem Ohoirat, menjelaskan saat pemeriksaan, Syahrul Wadjo mengaku, dirinya dijemput oleh dua orang pada malam itu, dan mereka berdua adalah seniornya di HMI.

Sayangnya, Syahrul Wadjo tidak memberikan keterangan jelas tentang keduanya. Bahkan dia mengaku tidak diculik.

“Syahrul Wadjo saat memberikan keterangan berbelit-belit dan berubah-rubah. Itu yang membuat kami kesulitan. Misalnya, pada keterangan awal dia mengaku dijemput oleh dua mobil tetapi kemudian dia jelaskan hanya satu mobil. Dia katakan dia diancam dengan parang, tetapi kemudian dia katakan tidak ada yang menggunakan parang,” kata Kapolresta, sembari menegaskan polisi akan terus melakukan penyelidikan terkait motif dibalik kasus ini.

Kapolresta bahkan menyangkan kenapa informasi ini harus disembunyikan bahkan Wadjo baru mengakuinya ketika dikonfrontir dengan saksi-saksi.

Sementara itu, Wadjo dalam keterangan pers, mengaku tidak diculik bahkan dia antar pulang secara baik-baik.

“Saya perlu klarifikasi bahwa soal penculikkan diri saya itu tidak benar atau hoax, karena saya dipulangkan secara baik-baik. Saya meminta maaf dan semoga tidak ada isu-isu yang berkembang yang bisa merugikan dirinya secara pribadi,” ujar Wadjo.

Wadjo kemudian menjelaskan kronologis malam tanggal 2 September, dirinya berjalan dari Komisariat HMI Fakultas Hukum menuju Komisariat HMI Fakultas ekonomi Unpatti dan saat berjalan, dia berpapasan dengan dua rekannya, Fahmi dan Haikal.

Dan ketika dirinya (Wadjo-red) menengok kebelakang dilihat ada mobil, spontan dirinya mengajak kedua temannya untuk berjalan.

“Saya langsung katakan kepada teman saya untuk kita jalan saja karena mobil dibelakang kita tifdak beres. Tetapi ketika berjalan dua orang turun dari mobil dan memegang kerak baju saya dan mengajak masuk ke mobil,” tutur dia.

Di dalam mobil, kata Wadjo, dirinya mengenal salah satu diantara dua orang itu, kareana tiga tahun lalu pernah datang ke komisariat HMI Hukum Unpatti. Keduanya mengaku, senior di HMI.

Mobil terus berjalan, dan selama dalam perjalanan percakapan terjadi dan saat sampai di Waiheru, Wadjo mengaku diintrograsi kedua senior HMI itu.

“Mereka mengaku kecewa atau seakan-akan marah dengan materi orasi saat aksi demonstrasi yang saya sampaikan pada 2 September kemarin,” cerita dia.

Setelah selesai diintrogasi, Wadjo mengaku diajak untuk makan nasi kuning di kawasan Batu Koneng, setelah itu kita ke Passo selanjutnya menuju Poka dan dirinya diturunkan di depan Kantor Desa Poka dan hendak kembali ke Komisariat HMI Ekonomi Unpatti.

Hanya saja lanjut dia, ketika hendak kembali dirinya bertemu dengan rekannya dan melarang dirinya untuk kembali ke komisariat, lantaran disana ada polisi.

Karenanya mereka mengajak Wadjo untuk sementara tidur di rumah salah satu senior dan paginya barulah dia kembali ke Komisariat HMI Ekonomi Unpatti.

“Saya diantar sampai Gapura Pemda III, saya niat jalan ke ekonomi tetapi rekan saya bilang ada polisi, karenanya saya diajak tidur ke salah satu senior kami, dan pagi baru saya balik ke komisariat,” tutur Wadjo.(DAS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed