AMBON, MARINYO.COM– Sidang Klasis Kota Ambon ke-50 atau Sidang Emas menjadi momentum penting bagi Gereja Protestan Maluku (GPM) untuk memperkuat arah pelayanan gereja sekaligus menjawab berbagai persoalan umat di tengah dinamika kehidupan masyarakat Kota Ambon.
Sidang dimulai dengan arak-arakan 30 becak yang ditumpangi majelis pekerja klasis, 21 ketua majelis jemaat dalam lingkup klasis Kota Ambon dan Majelis pekerja harian sinode GPM yang dihadiri Wakil Sekum GPM Sinode, Pdt M.Takaria yang di mulai dari depan gereja Maranatha, melintasi depan Batu-Meja, menuju gereja Josep Kam.
Ketua Klasis Kota Ambon, Pdt Rinto Muskitta, menegaskan bahwa persidangan gereja tidak boleh dipandang sekedar agenda organisasi yang rutin dilaksanakan, tetapi harus dimaknai sebagai ruang untuk meneguhkan kembali panggilan pelayanan gereja di tengah masyarakat.
“Persidangan gereja bukan sekadar agenda organisasi yang diatur dalam tata gereja, tetapi panggilan untuk melaksanakan misi Allah. Di dalamnya ada harapan, tanggung jawab dan panggilan yang terus diperbarui,” ujar Muskitta dalam sambutannya.
Menurutnya, para peserta sidang tidak hanya berkumpul untuk menanggapi laporan pelayanan, menyusun program maupun merancang anggaran, tetapi juga membawa tanggung jawab terhadap pertumbuhan iman dan kehidupan umat yang dilayani.
Muskitta mengakui, gereja saat ini diperhadapkan dengan berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks di tengah masyarakat, mulai dari krisis keluarga, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga hingga persoalan ekonomi umat.
Karena itu, ia menilai gereja perlu memperkuat pelayanan pastoral yang menyentuh langsung kehidupan keluarga dan generasi muda.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Semua itu adalah kenyataan yang harus dihadapi dan menjadi tanggung jawab pelayanan gereja,” katanya.
Selain itu, Muskitta juga menekankan pentingnya integritas para pelayan gereja dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang ini umat tidak hanya mendengar khotbah kita, tetapi juga membaca kehidupan kita. Karena itu ketekunan dalam kasih Allah harus terlihat dalam sikap hidup dan etika pelayanan kita,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Muskita juga mengajak gereja untuk turut mengambil bagian dalam menjawab berbagai persoalan kota, termasuk masalah lingkungan seperti sampah, banjir dan penataan ruang kota.
Ia menegaskan bahwa gereja siap mendukung langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Ambon dalam menata lingkungan dan menjaga kebersihan kota.
“Masalah sampah, banjir dan penataan ruang kota bukan sekadar urusan pemerintah, tetapi juga bagian dari panggilan iman kita untuk menjaga ciptaan Tuhan. Karena itu gereja siap mendukung agenda Pemerintah Kota Ambon dalam menjaga lingkungan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat,” tandasnya.
Sementara itu, Anggota Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Pdt Max Takaria, menegaskan bahwa Sidang Klasis Kota Ambon memiliki posisi strategis dalam menerjemahkan arah pelayanan gereja pada dasawarsa baru menuju satu abad GPM pada tahun 2035.
Menurut Takaria, sidang klasis ini merupakan persidangan pertama setelah Sidang Sinode GPM ke-39, sekaligus awal memasuki dasawarsa kelima pelaksanaan Pola Induk Pelayanan dan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan (RIPP) GPM.
“Persidangan klasis ini memiliki posisi strategis untuk menerjemahkan visi dan arah pengembangan pelayanan GPM menuju satu abad GPM pada tahun 2035,” ujar Takaria.
Ia menjelaskan, pada dasawarsa kelima ini GPM dipandu oleh visi “Menjadi Gereja yang Berbuah dalam Anugerah Allah Tritunggal.” Visi tersebut merupakan pengembangan dari visi sebelumnya yakni berakar dalam Allah Tritunggal dan bertumbuh bersama merawat serta membela kehidupan.
Menurut Takaria, visi tersebut menegaskan komitmen GPM untuk menjadi gereja yang memancarkan anugerah Allah dalam seluruh kehidupan serta menghadirkan nilai-nilai kebaikan, keadilan, kesejahteraan, perdamaian dan persaudaraan.
“GPM dipanggil menjadi gereja yang memancarkan anugerah Allah dalam kehidupan, menghadirkan kebaikan, keadilan, kesejahteraan, perdamaian dan persaudaraan serta memelihara keutuhan ciptaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap keluarga sebagai pusat pembinaan iman warga gereja.
“Keluarga adalah ladang pertama dan utama tempat buah kasih Allah ditumbuhkan. Karena itu penguatan pastoral keluarga harus terus menjadi perhatian gereja,” tegasnya. (***)











Komentar