AMBON, MARINYO.COM — Busana adat khas Maluku dan Ambon terus mengalami perkembangan seiring perubahan zaman. Sentuhan modern mulai diterapkan pada desain dan bahan, namun identitas serta pakem budaya tetap menjadi pijakan utama dalam pengembangannya.
Hal itu terlihat dalam Expo DPRD Kota Ambon, Rabu (3/9/2026), yang turut memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat. Salah satunya Butik Ambon yang menampilkan beragam pakaian adat khas Maluku, Ambon, hingga busana bernuansa etnik Maluku.
Owner Butik Ambon, Rina Hetaria/Papilaya, mengatakan keikutsertaan dalam Expo DPRD Kota Ambon menjadi momentum penting bagi pelaku usaha untuk mempromosikan produk sekaligus ikut menjaga keberlangsungan busana tradisional Maluku.
“Ini momen yang penting buat kita semua bisa mempromosikan usaha kita. Butik Ambon juga diundang hari ini dan menampilkan pakaian-pakaian adat khas Maluku, Ambon, dan etnik Maluku,” ujar Rina saat ditemui di lokasi pameran.
Salah satu busana yang diperkenalkan adalah baju basumpa, yang dikenal masyarakat Ambon sebagai salah satu pakaian pengantin khas Ambon. Dalam pengembangannya, busana tersebut diberikan sentuhan modern tanpa menghilangkan karakter utama yang melekat pada pakaian adat tersebut.
“Ini adalah baju basumpa. Kalau orang Ambon bilang baju basumpa, baju kawin Ambon. Kalau ini sudah ada sedikit motif modern,” jelasnya.
Rina menjelaskan, model asli baju basumpa umumnya menggunakan kain beludru dengan bentuk dan karakter tertentu yang menjadi ciri khas pakaian pengantin Ambon.
Menurutnya, perubahan desain merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam perkembangan dunia fashion. Namun, inovasi tersebut harus tetap memperhatikan aturan dan identitas budaya yang terkandung dalam busana adat.
“Yang pasti, dia punya aslinya itu tidak boleh diubah. Dia punya aturan-aturan untuk pakainya juga tidak boleh berubah. Tapi model-modelnya itu juga ada. Sekarang ini mulai banyak yang sesuai dengan perubahan zaman,” katanya.
Ia menilai perkembangan desain busana adat justru dapat menjadi peluang untuk mendekatkan warisan budaya Maluku dengan generasi muda. Apalagi, saat ini semakin banyak anak muda yang tertarik mengenakan busana bernuansa adat dengan desain yang lebih kekinian.
“Anak-anak muda sekarang banyak yang mau pakai dengan perubahan model,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan Butik Ambon adalah mengubah cole, yang selama ini dikenal sebagai bagian dari pakaian tradisional perempuan Maluku, menjadi blouse dengan desain yang lebih modern.
Rina mengatakan, ide tersebut berawal dari ketertarikannya terhadap bordiran pada bagian belakang cole yang dinilai memiliki nilai estetika tinggi. Ornamen tersebut kemudian dikembangkan menjadi bagian utama dari desain blouse dan dipadukan dengan kain tenun.
“Cole itu sebenarnya pakaian dalam. Karena anak muda sekarang lihat bordiran di belakang cole bagus, jadi Mama Ina rubahkan menjadi blouse. Ini blouse cole, modelnya cole, tapi dikombinasikan dengan kain tenun,” jelasnya.
Rina berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga busana tradisional Maluku tetap hidup di tengah perkembangan industri fashion. Menurutnya, modernisasi dapat dilakukan melalui bentuk, desain maupun kombinasi bahan, tetapi tidak boleh menghilangkan identitas budaya.
Ia juga berharap kegiatan pameran seperti Expo DPRD Kota Ambon dapat terus memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk mempromosikan produk sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Menurut Rina, pengembangan busana adat dengan pendekatan modern akan membuat pakaian khas Maluku semakin dekat dengan generasi muda. Dengan demikian, warisan budaya tersebut tidak hanya hadir dalam acara adat dan kegiatan seremonial, tetapi juga dapat berkembang dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari sesuai kebutuhan zaman. (***)











Komentar