oleh

Panas Pela Rohani Hidupkan Kembali Ikrar Persaudaraan 33 Tahun Katedral Ambon–Negeri Soya

-Berita-643 views

AMBON, MARINYO.COM – Tradisi pela yang mengakar kuat dalam budaya Maluku kembali menyala di Negeri Soya. Setelah 33 tahun berlalu, ikrar pela antara Paroki Santo Fransiskus Xaverius Katedral Ambon dan Negeri Soya kembali dihidupkan dalam kegiatan Panas Pela Rohani, Sabtu (6/12/2025). Momen ini mengikat kembali persaudaraan Katolik–Protestan yang dahulu diikrarkan pada 1992.

Kegiatan dimulai dengan seminar di Gedung Gereja Katedral Ambon yang menghadirkan Pastor Vikaris Parokial Katedral Ambon RD Igo Refo, mantan Ketua Sinode GPM Pdt Elifas Maspaitella, dan Raja Negeri Soya Herve Rehatta. Seminar dilanjutkan dengan Ibadah Oikumene di Negeri Soya yang menjadi pusat dari seluruh rangkaian acara.

Di era digital, keterlibatan generasi muda gereja menjadi penekanan utama. Mereka diingatkan kembali pada sejarah kedatangan misionaris Jesuit, Santo Fransiskus Xaverius, yang tiba di Ambon pada 14 Februari 1546 dan membaptis ribuan penduduk lokal. Jejak misionaris inilah yang kemudian menandai kelahiran Gereja Katolik di Maluku dan hubungan persaudaraan antara Katedral Ambon dan Negeri Soya.

Pastor Paroki Katedral Ambon, RD Paul A Kalkoy, dalam sambutannya menegaskan bahwa hubungan pela memiliki makna mendalam. Ia mengenang Napak Tilas Santo Fransiskus Xaverius tahun 1992 yang menjadi cikal bakal ikrar pela.

“Selama 446 tahun, orang Soya dan Katedral baru tersadar bahwa pernah ada orang kudus yang datang di tempat ini. Hari ini kita mengulangi apa yang pernah orang-orang tua lakukan,” ujarnya.

Pastor Paul juga mengingatkan bahwa umat Paroki Katedral tinggal dan hidup di tanah Negeri Soya, sehingga nilai persaudaraan harus terus dijaga.

“Kita semua tinggal di atas tanah saudara kita. Terima kasih basudara Negeri Soya karena telah membuka hati dan menyediakan tempat untuk kita.”

Ketua Majelis Jemaat GPM Soya, Pdt Semmy Pattikawa, menegaskan bahwa Panas Pela Rohani tahun ini terjadi karena penyertaan Tuhan.
Pdt Semmy juga menyinggung sejarah panjang kekristenan di Ambon: sebelum Protestan hadir, Katolik sudah lebih dulu tiba bersama Portugis.

“Tetapi itu tidak menjadi masalah, sebab yang pasti kita percaya kepada Allah yang memungkinkan kita terus melayani sampai hari ini,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ikatan pela antara Katedral dan Negeri Soya sangat kuat, karena pada 1992 disertai sumpah pela dengan tradisi minum sopi bertetes darah.

“Kalau kita sudah terlanjur membangun hubungan ini, berarti kita harus jaga dan lestarikan. Mari jaga bae-bae pela ini.”

Raja Negeri Soya, Herve Rehatta, menegaskan bahwa ikrar yang dibuat para leluhur pada 1992 adalah warisan yang harus dijaga.

“Dimana ada ikatan persaudaraan, di situ ada kedamaian. Biarlah cerita dan sejarah ini kita turunkan ke generasi berikut.”

Panas Pela Rohani tahun 2025 berlangsung semarak dengan berbagai kegiatan, antara lain: Seminar dan Ibadah Oikumene, Expo hasil pertanian, kuliner, dan kerajinan warga Soya, Penyerahan 30 paket sembako dari Paroki Katedral kepada masyarakat, Pemberian cindramata, Makan patita dan ramah tamah sebagai penutup

Acara ini menjadi penegas bahwa persaudaraan Katedral Ambon dan Negeri Soya bukan sekadar sejarah masa lalu, tetapi warisan yang terus dijaga dan dihidupkan untuk generasi mendatang. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed